PIAGAM MADINAH

ISI PIAGAM MADINAH [1]

Piagam Madinah (Bahasa Arab: صحیفة المدینه, shahifatul madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) di tahun 622.  Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut Ummah. [sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Madinah].

Berikut terjemahan isi Piagam Madinah tersebut:

  1. Ini adalah naskah perjanjian dari Muhammad, Nabi dan Rasul Allah, mewakili pihak kaum muslimin yang terdiri dari warga Quraisy dan warha Yastrib serta pengikutnya yaitu mereka yang beriman dan ikut serta berjuang bersama mereka.
  2. Kaum muslimin adalah umat yang bersatu utuh, mereka hidup berdampingan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang lain.
  3. Kelompok Muhajirin yang berasal dari warga Quraisy, dengan tetap memegang teguh prinsip aqidah, mereka bahu membahu membayar denda yang perlu dibayarnya. Mereka membayar dengan baik tebusan bagi pembebasan anggota yang ditawan.
  4. Bani ‘Auf dengan tetap memegang teguh prinsip aqidah, mereka bahu membahu membayar denda pertama mereka. Setiap kelompok dengan baik dan adil membayar dengan baik tebusan bagi pembebasan warganya yang ditawan.
  5. Bani al-Harits (dari warga Khazraj) dengan tetap memegang teguh prinsip aqidah, mereka bahu membahu membayar denda pertama mereka. Setiap kelompok dengan baik dan adil membayar dengan baik tebusan bagi pembebasan warganya yang ditawan.
  6. Bani Sa’idah dengan tetap memegang teguh prinsip aqidah, mereka bahu membahu membayar denda pertama mereka. Setiap kelompok dengan baik dan adil membayar dengan baik tebusan bagi pembebasan warganya yang ditawan.
  7. Bani Jusyam dengan tetap memegang teguh prinsip aqidah, mereka bahu membahu membayar denda pertama mereka. Setiap kelompok dengan baik dan adil membayar dengan baik tebusan bagi pembebasan warganya yang ditawan.
  8. Bani al-Najjar dengan tetap memegang teguh prinsip aqidah, mereka bahu membahu membayar denda pertama mereka. Setiap kelompok dengan baik dan adil membayar dengan baik tebusan bagi pembebasan warganya yang ditawan.
  9. Bani ‘Amr ibn ‘Auf dengan tetap memegang teguh prinsip aqidah, mereka bahu membahu membayar denda pertama mereka. Setiap kelompok dengan baik dan adil membayar dengan baik tebusan bagi pembebasan warganya yang ditawan.
  10. Bani al-Nabit dengan tetap memegang teguh prinsip aqidah, mereka bahu membahu membayar denda pertama mereka. Setiap kelompok dengan baik dan adil membayar dengan baik tebusan bagi pembebasan warganya yang ditawan.
  11. Bani al-Aus dengan tetap memegang teguh prinsip aqidah, mereka bahu membahu membayar denda pertama mereka. Setiap kelompok dengan baik dan adil membayar dengan baik tebusan bagi pembebasan warganya yang ditawan.
  12. (a) Kaum Muslimin tidak membiarkan seseorang Muslim yang dibebani hutang atau beban keluarga. Mereka member bantuan dengan baik untuk keperluan membayar tebusan atau denda. (b) Seorang Muslim tidak akan bertindak senonoh terhadap sekutu (tuan atau hamba sahaya) Muslim yang lain.
  13. Kaum Muslimin yang taat (bertaqwa) memiliki wewenang sepenuhnya untuk mengambil tindakan terhadap seorang Muslim yang menyimpang dari kebenaran atau berusaha menyebarkan dosa, permusuhan dan kerusakan di kalangan kaum Muslimin. Kaum Muslimin berwenang untuk bertindak terhadap yang bersangkutan, sungguhpun ia anak Muslim sendiri.
  14. Seorang Muslim tidak diperbolehkan membunuh orang muslim lain untuk kepentingan orang kafir, dan ia tidak diperbolehkan pula untuk menolong orang kafir dengan merugikan orang muslim.
  15. Jaminan (perlindungan) Allah hanya satu. Allah berada pada pihak mereka yang lemah dalam menghadapi yang kuat. Seorang muslim, dalam pergaulannya dengan pihak lain, adalah pelindung bagi orang muslim yang lain.
  16. Kaum Yahudi mengikuti kami akan memperoleh pertolongan dan hak persamaan serta akan terhindar dari perbuatan aniaya  bagi orang muslim yang lain.
  17. Perdamaian bagi kaum muslimin adalah satu. Seornag Muslim tidak akan mengadakan perdamaian dengan pihak luar dalam perjuangannya menegakkan agama Allah kecuali atas dasar persamaan dan keadilan.
  18. Keikutsertaan wanita dalam berperang dengan kami dilakukan secara bergiliran.
  19. Seorang Muslim dalam rangka menegakkan agama Allah, menjadi pelindung bagi Muslim yang lain di saat menghadapi hal-hal yang mengancam keselamatan jiwa.
  20. (a) Kaum Muslimin yang taat berada dalam petunjuk yang paling baik dan benar.   (b) Seorang musyrik tidak diperbolehkan melindungi harta dan jiwa orang Quraisy dan tidak diperbolehkan mencegahnya untuk berbuat sesuatu yang merugikan orang muslim.
  21. Seorang yang ternyata berdasarkan bukti-bukti yang jelas membunuh seorang Muslim, wajib diqishash, kecuali bila wali terbunuh memaafkannya. Dan semua kaum Muslimin mengindahkan pendapat wali terbunuh. Mereka tidak diperkenankan mengambil keputusan kecuali dengan mengindahkan pendapat wali korban tersebut.
  22. Setiap muslim yang telah mengakui perjanjian yang tercantum dalam naskah ini, dan ia beriman kepada Allah dan Hari Akhir, tidak diperkenankan membela atau melindungi pelaku kejahatan. Siapa yang membela atau melindungi orang tersebut, maka ia akan dilaknat oleh Allah pada Hari Akhir. Mereka tidak memperoleh pertolongan dan tebusannya tidak dianggap sah.
  23. Bila kami sekalian berbeda pendapat dalam suatu hal, maka perkaranya dikembalikan kepada ketentuan Allah dan Muhammad.
  24. Kedua belah pihak, Kaum Muslimin dan Yahudi, bekerjasama dalam menanggung pembiayaan ketika mereka melakukan perang bersama-sama.
  25. Sebagai satu kelompok, Yahudi Bani ‘Auf hidup berdampingan dengan kaum muslimin. Kedua belah pihak memiliki agama masing-masing. Demikian pula halnya dengan sekutu dan diri masing-masing. Bila di antara mereka ada yang melakukan aniaya dan dosa dalam hubungan ini, maka akibatnya akan ditanggung oleh diri dan warganya sendiri.
  26. Bagi Yahudi Bani al-Najjar berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi kaum Yahudi Bani ‘Auf.
  27. Bagi Yahudi Bani al-Harits berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi kaum Yahudi Bani ‘Auf.
  28. Bagi Yahudi Bani Sa’idah berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi kaum Yahudi Bani ‘Auf.
  29. Bagi Yahudi Bani Jusyam berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi kaum Yahudi Bani ‘Auf.
  30. Bagi Yahudi Bani al-Aus berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi kaum Yahudi Bani ‘Auf.
  31. Bagi Yahudi Bani Tsa’labah berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi kaum Yahudi Bani ‘Auf. Siapa yang melakukan aniaya atau dosa dalam hubungan ini, maka akibatnya akan ditanggung oleh diri dan warganya sendiri.
  32. Bagi Yahudi Bani Jafnah, sebagai anggota warga Bani Tsa’labah, berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi kaum Yahudi Bani Tsa’labah.
  33. Bagi Bani Syuthaibah berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi kaum Yahudi Bani ‘Auf. Dan bahwa kebajikan itu berbeda dengan perbuatan dosa.
  34. Sekutu (hamba sahaya) Bani Tsa’labah tidak berbeda dengan Bani Tsa’labah itu sendiri.
  35. Kelompok-kelompok keturunan Yahudi tidak berbeda dengan Yahudi itu sendiri.
  36. Tidak dibenarkan seseorang menyatakan keluar dari kelompoknya kecuali mendapat izin dari Muhammad. Tidak diperkenankan melukai (membalas) orang lain melebihi kadar perbuatan jahat yang telah diperbuatnya. Sesungguhnya Allah memperhatikan ketentuan yang paling baik dalam hal ini.
  37. Kaum Yahudi dan Kaum Muslimin membiayai pihak masing-masing. Kedua belah pihak akan membela satu sama lainnya dalam menghadapi pihak yang memerangi kelompok-kelompok masyarakat yang menyetujui perjanjian ini. Kedua belah pihak juga saling memberikan saran dan nasehat dalam kebaikan, tidak dalam perbuatan dosa.
  38. Seorang tidak dipandang berdosa karena dosa sekutunya dan orang yang teraniaya akan mendapat pembelaan.
  39. Daerah-daerah Yatsrib terlarang perlu dilindungi dari setiap ancaman untuk kepentingan penduduknya.
  40. Tetangga itu seperti halnya diri sendiri, selama tidak merugikan dan tidak berbuat dosa.
  41. Sesuatu kehormatan tidak dilindungi kecuali atas izin yang berhak atas kehormatan itu.
  42. Sesuatu peristiwa atau perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak yang menyetujui piagam ini dan dikhawatirkan akan membahayakan kehidupan bersama harus diselesaikan atas ajaran Allah dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Allah akan memperhatikan isi perjanjian yang paling dapat memberikan perlindungan dan kebaikan.
  43. Dalam hubungan ini warga yang berasal dari Quarisy dan warga lain yang mendukungnya tidak akan mendapat pembelaan.
  44. Semua warga akan saling bahu membahu dalam menghadapi pihak lain yang melancarkan serangan terhadap Yatsrib.
  45. (a) Bila penyerang diajak berdamai dengan memenuhi ajakan itu serta melaksanakan perdamaian tersebut, maka perdamaian tersebut dianggap sah. Bila mereka mengajak berdamai seperti itu, maka kaum muslimin wajib memenuhinya dan melaksanakan perdamaian tersebut, selama serangan yang dilakukan tidak menyangkut masalah agama. (b) Setiap orang wajib melaksanakan kewajiban masing-masing sesuai dengan fungsi dan tugasnya.
  46. Kaum Yahudi Bani Aus, sekutu (hamba sahaya) dan diri mereka masing-masing memiliki hak sebagaimana kelompok-kelompok lainnya yang menyetujui perjanjian ini, dengan perlakuan yang baik dan sesuai dengan semestinya dari kelompok-kelompok tersebut. Sesungguhnya kebajikan itu berbeda dengan perbuatan dosa. Setiap orang harus bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukannya. Allah memperhatikan isi perjanjian yang paling murni dan paling baik.
  47. Surat perjanjian ini tidak membela orang yang berbuat aniaya dan dosa. Setiap orang dijamin keamanannya, baik sedang berada di Madinah maupun sedang di luar Madinah, kecuali orang yang berbuat aniaya. Allah adalah pelindung orang-orang berbuat kebaikan dan menghindari keburukan.

MUHAMMAD RASULULLAH SAW

 


[1] Sumber: Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, ( Jakarta: UI Press, 1991) sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Muhammad Iqbal, M.Ag dalam Fiqh Siyasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) h. 301 – 305.