Asal Usul Pendidikan Islam di Indonesia

Jika kita mencermati agenda permasalahan universal yang dihadapi rakyat Indonesia dewasa ini, maka diskursus yang paling menarik untuk dibahas adalah pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan. Dengan pendidikan, kita bisa memajukan kebudayaan dan mengangkat derajat bangsa di mata dunia internasional. Dengan pendidikan akan lahirlah Sumber Daya Manusia yang berkualitas, baik dari segi spritual, intelegensi, maupun skill.

Kita barangkali perlu merefleksikan lagi bahwa Indonesia merupakan pusat konsentrasi umat Islam yang terbesar di dunia. Sehingga dengan demikian, eksistensi pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata saja. Karena bagaimanapun, pendidikan Islam merupakan warisan leluhur bangsa ini yang pernah berhasil menciptakan manusia yang berkualitas, baik intelektual maupun moralitas. Sehingga tidak mengherankan, bila pendiri negeri ini meletakkan pendidikan pada tempat yang tertinggi sebagai sarana untuk membina dan membangun manusia Indonesia seutuhnya, sebagaimana tercermin dalam Pembukaan UUD 1945: “untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Untuk itu, tak berlebihan kiranya jika kita kembali merunut sejarah masa lalu terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia dari waktu ke waktu, sejak dengan ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap; mulai dari yang amat sederhana, sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern dan lengkap; yang kesemuanya telah memainkan fungsi dan perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zamannya. Dengan demikian diharapkan akan dapat menjadi bahan rujukan dan perbandingan bagi pengelola pendidikan Islam pada masa sekarang ini.

-

A) Masuk & Berkembangnya Islam di Indonesia

Prof. Haidar Putra Daulay menyebutkan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia agak unik dibandingkan dengan masuknya Islam ke daerah-daerah lain. Islam masuk ke Indonesia secara damai dibawa oleh para pedagang dan mubaligh. Sedangkan Islam yang masuk ke daerah lain pada umumnya banyak lewat penaklukan, seperti masuknya Islam le Irak, Iran (Persi), Mesir, Afrika Utara sampai ke Andalusia.

Sejauh menyangkut kedatangan Islam di Nusantara, terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok: tempat asal kedatangan Islam; para pembawanya; dan waktu kedatangannya. Berbagai teori dan pembahasan yang berusaha menjawab ketiga masalah pokok ini jelas belum tuntas dan belum memuaskan hingga saat ini.

Sarjana Belanda kebanyakan berpendapat bahwa kedatangan Islam ke Nusantara berasal dari India, di antara sarjana tersebut adalah Pijnappel dari Universitas Leiden, Moquette, Snouck Hurgronje. Menurut Hurgronje abad ke-12 adalah periode paling mungkin dari permulaan penyebaran Islam di Nusantara. Selain itu, beberapa Sarjana lain seperti Crawfurd, Niemann dan Naquib Al Attas berpendapat bahwa Islam tiba di Indonesia langsung berasal dari Arab. Bahkan Naquib Al Attas paling gigih mempertahankan teori ini.

Suatu hal yang dapat dikemukakan bahwa masuknya Islam ke Indonesia tidaklah bersamaan, ada daerah-daerah yang sejak dini telah dimasuki oleh Islam, di samping ada daerah yang terbelakang dimasuki Islam. Berkenaan dengan ini telah disepakati bersama oleh sejarawan Islam bahwa Islam pertama kali masuk ke Indonesia adalah di Sumatera. Kedatangan Islam ke Indonesia itu sendiri terjadi melalui kegiatan perdagangan yang ditempuh dengan proses yang sangat panjang sampai terbentuknya masyarakat muslim.

Terbentuknya masyarakat muslim di suatu tempat adalah melalui proses panjang yang dimulai dari terbentuknya pribadi-pribadi muslim sebagai hasil dari upaya para da’i. Masyarakat muslim tersebut selanjutnya menumbuhkan kerajaan Islam, tercatatlah sejumlah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, seperti Kerajaan Perlak, Pasai, Aceh Darussalam, Banten, Demak, Mataram, dan lain sebagainya.

Tersebarnya Islam ke berbagai wilayah di Indonesia yang begitu cepat tidak terlepas dari berbagai peran, terutama adanya kekuatan politik dari kerajaan Islam digabungkan dengan semangat para mubaligh untuk mengajarkan Islam. Maka dalam hal ini, peran pendidikan Islam turut memberikan sumbangsih positif kepada kemajuan peradaban bangsa Indonesia.

-

B) Asal-Usul Pendidikan Islam di Indonesia

Berbicara tentang pendidikan Islam di Indonesia, sangatlah erat hubungannya dengan kedatangan Islam itu sendiri ke Indonesia. Dalam konteks ini, Mahmud Yunus mengatakan, bahwa sejarah pendidikan Islam sama tuanya dengan masuknya Islam ke Indonesia. Hal ini disebabkan karena pemeluk agama Islam yang kala itu masih tergolong baru, maka sudah pasti akan mempelajari dan memahami tentang ajaran-ajaran Islam. Meski dalam pengertian sederhana, namun proses pembelajaran waktu itu telah terjadi. Dari sinilah mulai timbul pendidikan Islam, dimana pada mulanya mereka belajar di rumah-rumah, langgar/surau, masjid dan kemudian berkembang menjadi pondok pesantren. Setelah itu baru timbul sistem madrasah yang teratur sebagaimana yang dikenal sekarang ini.

Berdasarkan ungkapan di atas, dapat dipastikan pendidikan Islam itu telah berlangsung di Indonesia sejak mubaligh pertama melakukan kegiatannya dalam rangka menyampaikan keislaman baik dalam bentuk pentransferan pengetahuan, nilai, dan aktivitas maupun dalam pembentukan sikap atau suri tauladan. Maka dalam konteks pendidikan, para pedagang dan mubaligh yang memperkenalkan sekaligus mengajarkan Islam tersebut adalah pendidik, sebab mereka telah melaksanakan tugas-tugas kependidikan.

Dalam hal ini timbul pertanyaan, apa tolok ukur yang dijadikan bahwa kegiatan para pedagang atau mubaligh di dalam rangka menyampaikan ajaran Islam dapat digolongkan kepada aktivitas pendidikan. Untuk mencari makna dan hakikat pendidikan, maka perlu dcari ciri-ciri esensial aktivitas pendidikan, sehingga dapat dipilih mana aktivitas pendidikan dan mana yang bukan, untuk itu perlu dicari unsur dasar pendidikan.

Neong Muhadjir sebagaimana yang dikutip Haidar Putra Daulay menjelaskan bahwa ada lima unsur dasar pendidikan, yaitu adanya unsur pemberi dan penerima. Unsur pemberi dan penerima baru bermakna pendidikan kalau dibarengi dengan unsur ketiga, yaitu adanya tujuan baik. Jika hanya hubungan pemberi dan penerima saja yang ada ini belum dapat dikatakan aktivitas pendidikan, tanpa dibarengi dengan tujuan baik, sebab hubungan antara penjual dan pembeli, majikan dan buruh, juga ada hubungan antara pemberi dan penerima dan hubungan yang seperti ini belum dikatakan aktivitas pendidikan. Unsur berikutnya yakni unsur keempat cara atau jalan yang baik. Hal ini terkait nilai. Selanjutnya unsur kelima adalah konteks yang positif upaya pendidik adalah menumbuhkan konteks positif dengan menjauhi konteks negatif.

Dengan dijelaskannya kelima unsur dasar pendidikan di atas akan dapat dijadikan acuan tentang aktivitas pedagang dan mubaligh tersebut apakah dapat digolongkan sebagai sebuah aktivitas pendidikan atau bukan. Maka jika kita hubung-hubungkan akan ditemukan sebuah kesimpulan bahwa para pedagang dan mubaligh ketika memperkenalkan dan mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat sudah memenuhi unsur pendidikan tersebut. Dengan demikian, pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung sejak masuknya Islam ke Indonesia, dan dengan demikian pula pendidikan Islam telah memainkan peranannya dalam pembentukan masyarakat Indonesia.

-

C) Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Kerajaan Islam di Nusantara

Dalam hubungannya dengan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia, sejak awal penyebaran Islam, masjid telah memegang peranan yang cukup besar. Kedatangan orang-orang Islam ke Indonesia yang pada umumnya berprofesi sebagai pedagang, mereka hidup berkelompok dalam beberapa tempat, yang kemudian tempat-tempat yang mereka tempati tersebut menjadi pusat-pusat perdagangan. Di sekitar pusat-pusat dagang itulah, mereka biasanya membangun sebuah tempat sederhana (masjid), dimana mereka bisa melakukan shalat dan kegiatan lainnya sehari-hari. Memang tampaknya tidak hanya kegiatan perdagangan yang menarik bagi penduduk setempat. Kegiatan para pedagang muslim selepas dagangpun menarik perhatian masyarakat. Maka sejak itulah pengenalan Islam secara sistematis dan berlangsung di banyak tempat.

Pada masa itu, masjid dijadikan satu-satunya tempat bertemu antara ulama dengan masyarakat umum. Hal ini mengingat tidak ada tempat yang lebih memadai dalam mewadahi kegiatan tersebut selain di masjid. Maka tak heran bila akhirnya masjid selain untuk kegiatan ibadah, juga difungsi sebagai pusat kegiatan pendidikan bagi penduduk pedesaaan. Dari masjid inilah generasi muda muslim dididik dan digembleng, merekalah yang nantinya membuka jalan baru dalam membentuk masyarakat muslim di Indonesia dan menyebar sampai seluruh pelosok tanah air hingga terbentuknya kerajaan Islam di Indonesia.

Pada masa kerajaan Islam, para sultan memberikan dukungan yang sangat besar terhadap pengembangan masjid sebagai pusat pendidikan. Di Jawa, Sultan Demak memerintahkan pembangunan masjid agung yang menjadi pusat keilmuan kerajaan di Bintara, kemudian dukungan kepada para wali yang bertanggung jawab terhadap kehidupan agama Islam di Demak dengan pusat kegiatannya di Masjid Agung Demak. Dari masjid itulah para wali merencanakan, mendiskusikan dan membahas perkembangan Islam di Jawa dan pada akhirnya mereka berhasil mengislamkan Pulau Jawa. Di Kutai, Sultan mendirikan masjid yang dijadikan sebagai tempat terhormat untuk menjadi tempat pendidikan dari kalangan bawah sampai atas, termasuk dari kalangan keluarganya sendiri. Sementara di Aceh, masjid dibangun dengan megah dan dijadikan tempat mendidik masyarakat kesultananan Aceh.

Dalam perkembangan selanjutnya, masjid sebagai pusat pendidikan dan pengajaran secara informal maupun nonformal ini ternyata memberikan hasil yang cukup gemilang, yakni tersebarnya ajaran Islam keseluruh pelosok tanah air. Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan dalam sistem pendidikan Islam di masjid, yaitu:

  1. Tenaga pendidik, mereka adalah orang-orang yang tidak meminta imbalan jasa, tidak ada spesifikasi khusus dalam keahlian mengajar, mendidik bukan pekerjaan utama, dan tidak diangkat oleh siapapun;
  2. Mata pelajaran yang diajarkan terutama ilmu-ilmu yang bersumber kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, namun dalam perkembangan berikutnya ada bidang kajian lain, seperti: tafsir, fikih, kalam, bahasa Arab, sastra maupun yang lainnya;
  3. Siswa atau peserta didik, mereka adalah orang-orang yang ingin mempelajari Islam , tidak dibatasi oleh usia, dari segala kalangan dan tidak ada perbedaaan;
  4. Sistem pengajaran yang dilakukan memakai sistem halaqah (merupakan metode dimana santri menghafal teks atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya);
  5. Metode pengajaran yang diterapkan memakai 2 metode, yakni metode bandongan (merupakan metode dimana seorang guru membacakan dan menjelaskan isi sebuah kitab, dikerumuni oleh sejumlah murid yang masing-masing memegang kitab yang serupa, mendengarkan dan mencatat keterangan yang diberikan gurunya berkenaan dengan bahasan yang ada dalam kitab tersebut pada lembaran kitab atau pada kertas catatan yang lain dan metode sorogan (merupakan metode dimana santri menyodorkan sebuah kitab dihadapan gurunya, kemudian guru memberikan tuntunan bagaimana cara membacanya, menghafalkannya, dan pada jenjang berikutnya bagaimana menterjemahkan serta menafsirkannya).

Mengenai waktu pendidikan, tidak ada waktu khusus dalam proses pendidikan di masjid, hanya biasanya banyak dilakukan di sore atau malam hari, karena waktu tersebut tidak mengganggu kegiatan sehari-hari dan mereka mempunyai waktu yang cukup luang. (Indra Laksamana Muda)

-

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyurmadi, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Ciputat: Logos, 1999.

Daulay, Haidar Putra, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. II, 2007.

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press, 1995.

Nasution, Harun, Pembaruan dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1991.

Nata, Abuddin (Editor), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Grasindo, 2001.

Nizar, Samsul, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, Ciputat: Quantum Teaching, 2005.

Yatim, Badri Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001.

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, 1985.

Foto ilustrasi dari Google.