Kaum Semut dan Dua Nabi Allah SWT

padang pasirENTAH dari mana mau kemana; yang jelas sekerumunan semut-semut itu tidak sedang pindah rumah, ngungsi atau mau mudik. Mereka punya tujuan dan sasaran yang jelas, amal jama’ah mereka kompak, dan kedisiplinan mereka cukup tinggi. Mereka memang sedang bekerja, mengumpulkan sekeping demi sekeping makanan; sebagiannya untuk mereka makan bersama, dan sebagian laginya untuk dijadikan stok logistik masa depan yang lebih panjang dari usia yang mungkin mereka jalani.

Mereka bekerja bersama-sama dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama pula, bukan untuk kepentingan pribadi-pribadi. Bahkan demi memenuhi kebutuhan itu, tak jarang mereka menghadapi berbagai rintangan dari makhluk-makhluk lain yang tentunya lebih besar dari ukuran tubuh mereka.

Pada suatu ketika, sekelompok semut yang sedang berkonvoi merintangi jalan yang dilalui oleh Nabi Sulaiman dan pasukan berkudanya. Sontak sang pemimpin semut itu begitu mengkhawatirkan keselamatan rakyatnya. Si Raja semut dengan sigap memberikan peringatan kepada kaumnya, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedang mereka tidak menyadari.” [QS.27:18]

Meski dalam situasi terancam, namun tidak membuat seribuan semut itu kocar-kacir dan terpecah belah. Mereka tetap dalam suatu kedisiplinan tinggi, berjalan digaris navigasi yang telah ditetapkan. Menyelamatkan diri masing-masing tanpa mengorbankan satu sama lain. Dengar pula ungkapan sang pemimpin semut itu, “…. agar tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedang mereka tidak menyadari”. Kalimat, “sedang mereka tidak menyadari” begitu menyejukkan bangsa semut. Tak ada kata provokasi disitu. Tak ada kalimat yang terkesan menyalahkan orang lain untuk sebuah kelemahan diri. Mereka tetap tahu diri meski dalam situasi yang amat terjepit sekalipun.

Begitu mendengar teriakan raja semut itu, sontak Nabi Sulaiman as menghentikan kuda berikut bala-tentaranya, sembari tersenyum dan bersyukur. Dia memberikan kesempatan kepada semut-semut itu untuk menyelamatkan diri. Setelah dipastikan semuanya selamat, barulah beliau melanjutkan perjalannya. Sang Nabi tidak merasa terganggu dengan semut-semut itu. Dia pun tidak merasa telah menyita waktu perjalanannya. Dia begitu menghormati nyawa makhluk lain meski hanya sesekecil semut sekalipun… Padahal Sulaiman adalah raja besar kala itu. Tentaranya bukan hanya golongan manusia saja, tapi juga kelompok jin dan berbagai jenis binatang menyertai rombongannya.

Tapi tidak semua makhluk yang dijumpai semut bersikap seperti Nabi Sulaiman alaihissalam. Malah banyak yang mereka jumpai sebaliknya, nyawa mereka harus melayang sia-sia lantaran sebuah kesalahan yang [belum tentu] mereka lakukan.

Pernah Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabatnya tentang seorang Nabi [tanpa beliau SAW menyebutkan nama Nabi tersebut] yang singgah di bawah sebatang pohon, tiba-tiba seekor semut menggigitnya. Nabi itu marah kepada seekor semut beserta teman-temannya. Dia bertekad menghukum seluruh desa semut. Dia memerintahkan para pengikutnya agar menjauhkan barangnya dari bawah pohon itu, kemudian dia menyulut api di desa semut. Maka semut-semut yang sedang berjalan-jalan di desanya dan di sekelilingnya terbakar, dan panas api itu sampai pula kepada semut-semut yang berada di lubangnya di dalam tanah. Allah SWT langsung menegur Nabi itu karena ketidak-adilannya.

Berikut penulis nukil-kan matan hadits tersebut:

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Nabi Singgah dibawah pohon, dia digigit oleh seekor semut. Dia memerintahkan agar barang bawaannya dijauhkan dari bawah pohon itu. Lalu dia memerintahkan agar rumah semut itu dibakar. Maka Allah mewahyukan kepadanya, “Mengapa tidak hanya satu ekor semut saja?”

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah, “Bahwasanya seekor semut menggigit salah seorang Nabi, maka dia memerintahkan agar desa semut dibakar. Allah pun mewahyukan kepadanya, “Hanya karena kamu digigit oleh seekor semut lalu kamu membinasakan sebuah umat yang bertasbih”.

Keadilan menuntut orang yang tidak bersalah, tidak boleh dihukum karena kesalahan orang lain. Yang menggigit Nabi itu hanyalah seekor semut. Jika memang mesti dihukum, maka semestinya yang dihukum hanyalah semut tersebut bukan yang lain.

Nah, kalau semut saja yang didzolimi mendapatkan perhatian besar dari Allah SWT, lantas bagaimana makhluk yang bernama manusia yang berlaku tak adil dan semena-mena kepada manusia yang lainnya?

Untuk masalah keadilan, Allah SWT secara tegas memperingatkan orang-orang mukmin: “Hai orang-orang yang beriman, Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu….“. [QS. An-Nisa’: 135]

Dalam QS. Al-Maidah ayat 8 juga disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (by: Indra Laksamana Muda)

  • ilustrasi foto dari goegle

One thought on “Kaum Semut dan Dua Nabi Allah SWT

  1. Penulis: […nyawa mereka harus melayang sia-sia lantaran sebuah kesalahan yang [belum tentu] mereka lakukan..]

    setuju!! Hilangnya keadilan membuat hilangnya sikap kemanusiaan pada diri seseorang. Negara Yang Makmur bila tidak dikelola dengan cara yang baik dan adilpun akan tetap dalam kemelaratan dan kesengsaraan..

    Semoga kita semua dapat berlaku adil pada siapa saja, amin!

Comments are closed.