Generasi Ulat Yang Mengagumkan

Siapapun dia, manusia tetap tak mungkin mampu menjadi makhluk sempurna. Yang dilakukan manusia hanyalah mengelola ketidaksempurnaan itu agar menjadi matang dan kelihatan mempesona. Kematangan dan pesona jiwa biasanya didapat melalui proses pembelajaran. Tidak mesti melalui bangku sekolah, tapi belajar dari alam juga. Tidak hanya didapat dari sesama manusia, tapi melalui binatang juga bisa.

Adalah ulat salah satu binatang yang dapat dijadikan manusia sebagai media pembelajaran. Meski ulat dicap sebagai binatang yang menjijikkan, tapi ia ternyata berhasil mentransformasi dirinya menjadi kupu-kupu yang mengagumkan.

Selera ulat yang semula doyan dedaunan akhirnya mampu merubah kebiasaan itu menjadi penggemar sari bunga.

Sifatnya yang senang merusak dan penyebar hama, mampu menjadi penyebar kehidupan buat bunga-bunga baru nan indah.

Keadaannya yang terkenal lambat melata berubah menjadi penerbang gesit nan lincah. Ia benar-benar mampu merubah hakikat dirinya yang menjijikkan menjadi mempesona.

Kupu-kupu mampu mewakili dirinya menjadi lambang keindahan, padahal semula ia hanya seekor ulat yang tak dapat berbuat apa-apa selain merusak. Kupu-kupu juga mampu mewakili sebuah pemahaman bahwa untuk menjadi indah dan mempesona tidak harus terlahir dari sesuatu yang indah dan mempesona juga. Keindahan dapat terlahir dari kejijikan, bahkan terkadang bisa lebih indah dari apa yang dilahirkan oleh keindahan itu sendiri.

Adalah Umar bin Khattab, Hamzah bin Abdul Muthalib, Khalid ibn Walid, Abdurrahman bin Auf, dan banyak lagi mantan bandit Quraisy yang dulunya ditakuti keberadaannya di masa jahiliyah mampu merubah penampilan mereka yang buruk itu menjadi sosok pribadi yang sejuk nan bersahaja. Mereka merupakan generasi ulat yang benar-benar telah berhasil bertransformasi menjadi kupu-kupu.

Tapi tak sedikit pula manusia yang sepanjang hayatnya hanya terhenti pada bentuk ulat dan tak mampu merubahnya menjadi kupu-kupu atau sesuatu yang lain yang tentunya lebih mempesona. Bahkan lebih parahnya lagi, dulunya mereka itu adalah kupu-kupu indah dan dicari, namun pada akhirnya berubah tidak hanya kembali menjadi ulat, tapi malah menjadi “belatung busuk” nan menjijaikan!!

Sebut saja Abu Jahal yang ternyata telah gagal mentransformasi keadaannya menjadi lebih baik. Dia sepertinya lebih senang dengan wujud asalnya sebagai “pembangga” dan “penyanjung” nenek moyang terdahulu. Ia merasa sudah sangat baik dengan keadaannya  seperti itu sehingga merasa tak perlu lagi repot-repot berubah menjadi sesuatu yang lain. Malahan, keadaannya yang tidak berubah itulah yang dia bangga-banggakan.

Abu Jahal hanyalah satu contoh kasus, dan pastinya dia tidak sendirian berlaku seperti itu di dunia ini. Masih banyak Abu Jahal – Abu Jahal lain yang merasa nyaman dengan keterpurukan dan kepongahan. Mereka tidak berusaha bangkit dari keterpurukan itu. Padahal Tuhan Yang Maha Kuasa sudah terang-terangan menyebutkan: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu yang merubah nasib mereka sendiri” – Dustur Ilahi

Semoga kita selalu menjadi “lebih baik” dari waktu ke waktu….

2 thoughts on “Generasi Ulat Yang Mengagumkan

  1. Semoga juga bisa mentransformasi diri menjadi lebih baik. lebih mempesona, lebih dari sekedar kupu-kupu. Aminnn ^_^

Comments are closed.