Istana Niat

Istana Lima Laras Kec. Tanjung Tiram Kab. Batubara Provinsi Sumatera Utara itu diberi nama “Istana Niat”. Konon nama ini ditabalkan bermula dari keinginan (niat) Datuk Matyoeda, (putra tertua Datuk H Djafar gelar Raja Sri Indra) untuk mendirikan sebuah istana kerajaan Lima Laras yang sebelumnya telah ada dan berkuasa secara turun-temurun; yakni yang diperkirakan telah lahir sejak abad XVII dimana kala itu masih tunduk  di bawah Kesultanan Siak di Riau. Tapi berhubung belum adanya Istana yang permanen, menyebabkan kantor pemerintahan kerajaan terus berpindah-pindah, sesuai dengan domisili Raja yang memerintah pada waktu itu. Akhirnya, sekitar tahun 1912 bangunan Istana Niat Lima Laras  dibangun secara permanen dan berdiri hingga hari ini.

Istana NiatIstana Niat Lima Laras  berada di atas tanah seluas 102 x 98 meter dengan bangunan berlantai empat. Lantai pertama terbuat dari batu dengan tiang-tiang yang kokoh, sedangkan lantai dua hingga lantai empat terbuat dari papan/kayu. Karena bahan dasarnya adalah papan/kayu, menyebabkan  banyak dinding Istana ini yang telah dimakan rayap dan lapuk, sehingga tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, ditambah lagi kurangnya perawatan dari berbagai kalangan terhadap keberlangsungan bangunan bersejarah ini.

Istana Niat Lima Laras juga memiliki empat anjungan di ke empat arah mata angin. Di depannya ada bangunan kecil tempat dua meriam berada. Hampir keseluruhan bangunan berarsitektur Melayu, terutama pada model atap dan kisi-kisinya. Tetapi ada juga beberapa bagian istana berornamen China. Kecuali batu bata, bahan bangunan seperti kaca untuk jendela dan pintu didatangkan dari luar negeri.

Istana dari DepanLantai pertama yang terbuat dari beton, dilengkapi balai rung atau tempat bermusyawarah. Di lantai dua dan tiga terdapat kamar-kamar dengan ukuran sekitar 6 x 5 meter. Total, istana ini memiliki 28 pintu dan 66 pasang jendela. Untuk naik ke tingkat dua dan tiga, selain tangga biasa di bagian luar, ada tangga berputar dengan 27 anak tangga dari bagian dalam. Tangga ini biasa disebut masyarakat Batubara dengan nama Tangga Pusing.

Dulu, sewaktu penulis masih kecil, tangga pusing ini menjadi tujuan tempat bermain. Maklum, jarak rumah penulis dari Istana Niat ini hanya berkisar 70 meter saja. Bahkan tak jarang, sepulang dari Masjid Al-Mukarram (yang terletak berseberangan dengan Istana), bersama beberapa teman kami langsung bermain di sana, turun-naik tangga yang bisa membuat kepala jadi pusing. Bahkan dari lantai paling atas, kami dapat melihat gedung-gedung di kota kecamatan Tanjung Tiram. Namun sayang, baik tangga pusing, maupun lantai tiga dan empat Istana tidak bisa lagi berfungsi dengan baik, semua sudah lapuk dimakan rayap.

Istana Niat di waktu malamIstana Niat Lima Laras adalah peninggalan bersejarah yang pantas dihargai.  Jangan sampai Istana tersebut runtuh seperti gedung WTC di Washington. Memang diakui, bahwa masyarakat sepanjang desa Lima Laras kurang memperhatikan Istana ini, bahkan terkesan cuek. Sepertinya mereka tidak terlalu bangga dengan keberadaan Istana Niat tersebut. Termasuk pemerintah kabupaten yang kala itu masih dibawah naungan Asahan, yang hanya beberapa kali saja merenovasi bangunan tertebut, dan itupun tidak tuntas.

Nah, ketika saat ini Kabupaten Batubara telah memekarkan diri, dan pemerintahan sepenuhnya dikelola oleh putra melayu Batubara sendiri, apakah nasib Istana Niat ini sama saja seperti yang sudah-sudah? Menunggu waktu untuk musnah dan hilang?? Apakah tak ada “niat” sedikitpun dari mereka-mereka untuk membangun kembali Istana Niat ini??? dan dijadikan sebagai salah satu objek wisata yang disenangi???

Yah… Kita tunggu sajalah….