Kita dan Cara Menyikapi Keadaan

Menyikapi segala hal yang selalu berhubungan dengan keseharian kita hendaklah dapat dilakukan secara proporsional. Karena bila sedikit saja keliru, kita akan tersiksa dibuatnya. Dalam hal ini Ali Audah ada mengutip sebuah kisah dari karya sufi zaman dahulu yang mungkin sedikit bermanfaat untuk bahan renungan kita.

Dua orang bersahabat sama-sama pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Hampir dalam segala hal kedua sahabat ini sama. Waktu berangkat pun membawa perbekalan yang sama, dalam satu kendaraan yang sama. Pergi dan pulang mereka tak pernah berpisah. Bertawaf, wukuf di Arafah dan segala rukun haji dikerjakan bersama, sampai mereka di Masjid Nabawi di Madinah, kemudian pulang, tak pernah berpisah.Sampai di kota asal barulah mereka berpisah, pulang ke rumah masing-masing yang kebetulan bertetangga pula.

Kepada tamu-tamu yang datang mengunjungi, mereka bercerita pengalaman selama berada di Tanah Suci. Tapi cerita kedua sahabat ini sangat jauh berbeda.

Yang seorang bercerita bahwa pengalamannya dalam perjalanan pulang-pergi benar-benar tersiksa. Nakhoda dan awak kapal tidak memberikan pelayanan yang baik. Kapal sudah tua, sering oleng dihempas gelombang laut. Makanan yang disediakan sudah basi. Sampai di tanah suci pun keadaannya tidak menyenangkan. Orang-orang Makkah kasar, jorok, dan ke mana pun ia pergi hanya bau tahi unta yang berserakan di sana-sini. Ia hamper jatuh tersungkur ketika bertawaf, karena ada orang yang menarik keras-keras leher bajunya dari belakang. Ketika ia shalat di masjid Nabawi, beberapa kali kepalanya diinjak-injak orang…. Dan waktu keluar dari Masjid sepatunya sudah tak ada lagi, dicuri orang…

Tetapi ketika tamu-tamu kemudian berkunjung kepada sahabat yang seorang lagi, cerita sahabat ini berbeda sekali Dari mulai keluar rumah, dalam perjalanan pulang-pergi segalanya serba menyenangkan. Nakhoda, awak kapal dan para panumpang serba ramah, sopan dan mereka gembira, sama-sama menyantap makanan yang lezat. Di tanah suci ia merasa benar-benar syahdu dan khusuk. Tanahnya harum, bersih dan setiap orang yang dijumpainya selalu ramah dan siap memberi bantuan bila diperlukan, Ia merasa nikmat selama berada di Tanah Suci…

Ternyata, polesan hati mereka berdua berbeda!!