Kepengemisan Bukan Tradisi Islam

Pengemis, sebuah fenomena

Di negeri ini, pengemis sepertinya tak pernah lekang dari pandangan, mereka seakan-akan ada di mana-mana. Mereka tak punya pilihan selain “mengemis”, faktor kemiskinanlah yang membuat seseorang bersedia menjadi pengemis. Syair lagu sewaktu kecil dulu yang menggambarkan betapa negeri ini sangat kaya raya sudah tak berlaku lagi. “Tongkat kayu” dan “batu” yang dulunya bisa jadi tanaman, sekarang mungkin tak tumbuh lagi. Akhirnya mau tak mau kegiatan kepengemisan dijadikan profesi alternatif yang “mungkin” menjanjikan.

Berbagai macam gaya dilakoni sang pengemis agar yang melihatnya merasa iba dan mau memberikan seketip uang. Dari aksi yang original sampai dibuat-buat. Dari yang pincang beneran hingga pincang-pincangan. Dari yang buta betulan sampai buta ecek-ecek. Sekali lagi, mereka begitu karena butuh!! Butuh menyambung hidup dan menafkahi diri serta juga keluarga.

Kita boleh mencibir dengan mereka. Kita boleh bilang mereka pemalas dan mau berbohong dengan mem-buta-buta-kan diri agar bisa dikasihani! Tapi satu hal yang harus kita ketahui, bahwa kebohongan yang mereka buat karena terpaksa. Dan kebohongan itupun tidak berbahaya buat orang lain. Karena tak ada satupun pihak yang dirugikan. Mereka tidak merampok, membunuh, atau menguras uang negara. Yang mereka lakukan hanya meminta belas kasihan orang yang berpunya. Itupun tidak banyak; hanya berkisar 500 hingga seribu perak. Di mana bahayanya? Kalaupun berbohong itu berdosa buat dirinya? Biarlah itu menjadi urusan dia dengan Tuhannya.

Jadi tak perlulah sampai ada yang melarang untuk menyantuni para pengemis itu. Kalau bersedia, silahkan memberi. Kalaupun dengan memberi pengemis itu tidak dianggap berpahala, biarkan saja. Toh yang diberi cuma seribu perak! Kalau tak berkenan memberi, abaikan saja. Gak usah pakai membuat statement: “Jangan memberi sedekah kepada peminta-minta!!”.

Sikap orang berpunya

Kewajiban orang berpunya adalah mengeluarkan sebagian rezekinya untuk disedekahkan. Rasul selalu memotivasi umatnya agar rajin bersedekah dan bersedekah. Salah satunya seperti: “Tidaklah termasuk orang yang beriman, barangsiapa tidur dalam kekenyangan sedang tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui.”

Bersedekah yang ideal sebenarnya adalah dengan memberikan sedekah itu sebelum ada yang memintanya terlebih dahulu. Sama seperti berhutang, jangan ditagih dulu hutangnya baru mau membayar. Kalau perlu, kita harus mencari orang untuk mau menerima sedekah kita.

Namun yang terjadi saat ini tidak seperti itu. Para orang berpunya justru tidak berhasrat mengeluarkan rezekinya kalau tidak diminta. Bahkan jika perlu harus ada surat keterangan yang menyatakan bahwa seseorang itu adalah miskin. Jadilah orang-orang miskin itu meminta-minta di sana-sini. Bahkan harus dengan aksi yang dibuat; dibuat-buat sakit, dibuat-buat kelaparan, dibuat-buat buta. Itu dilakukan agar yang diminta mau percaya. Walaupun sudah begitu, tidak serta merta yang melihat mau memberi, malah dicurigai yang macam-macam. Padahal yang mereka minta hanya sedikit, berkisar 500-100o perak. Dan anda jangan berfikir, “enak dong??” Kalau 1000 orang yang memberi dalam 1 hari, dikalikan sebulan, sudah berapa?? Bisa jadi pengemis semua masyarakat!”. Itu bukan urusan kita, toh uang yang kita keluarkan hanya seribu?? Kalaupun sekiranya si pengemis memperoleh uang banyak, itu sebenarnya bukan uang dari kita, lantas, apa urusan kita?

Lagian, kalau memang itu adalah pekerjaan enak dan mengasyikkan, kitapun tidak dilarang melakoninya toh? Kalaupun kita mau mensurvei para pengemis itu, sesungguhnya tidak satupun dari mereka yang mau menjadi pengemis kalau tidak terpaksa!!.

Sikap Islam terhadap pengemis

Islam menganjurkan umatnya untuk “memberi”, banyak ayat dan hadits yang menunjukkan keutamaan memberi tersebut. Untuk “meminta-minta”, tak ada sebuah ayatpun atau hadits Nabi pun yang menganjurkannya. Justru Rasul SAW memberikan sebuah nasihat: “Membawa tambang pergi ke gunung mencari kayu lalu dijual untuk makan dan bersedekah, lebih baik daripada meminta-minta kepada orang”.

Dalam pesan yang lain, Beliau SAW juga menyebutkan: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Ini menunjukkan betapa menjadi “pengemis” bukan bagian dari tradisi dan syariat Islam.

Namun begitu, kita tidak boleh menutup diri dengan keberadaan pengemis ini. Kita tidak seharusnya menyalahkan mereka tanpa ada solusi yang pas dalam menangani permasalahan kepengemisan ini. Mungkin yang menjadi catatan kita adalah betapa umat ini belum gemar bersedekah sehingga muncul para pengemis. Bersedekah hanya dilakukan setahun sekali pas masuk bulan Ramadhan, atau bersedekah kalau ada maunya. Bukan karena sebuah keharusan.

Maka jika sekiranya semua yang berpunya (berpunya tidak mesti kaya) mau mengeluarkan sebagian rezekinya untuk disedekahkan kepada mereka yang miskin, niscaya pengemis itu tidak akan kita jumpai lagi. Mereka sudah cukup diberi tanpa perlu meminta lagi. Mereka sudah punya pekerjaan karena kita menyediakannya untuk mereka.

Mungkinkah????

One thought on “Kepengemisan Bukan Tradisi Islam

  1. bersedekahlah… sebelum tidak ada lagi yang mau menerima sedekah anda….🙂

Comments are closed.