Dendam Santri

Beberapa bulan lalu, seorang santri dilaporkan temannya kepada ustadz pengasuh karena ketahuan membongkar paksa lemari si pelapor. Meski tak ada satu barangpun yang diambil, tetap saja sang ustadz memanggil dan menginterogasinya.

“Mengapa kamu bongkar lemari temanmu?”, tanya sang ustadz.

“Habis ustadz… lemari saya juga kebongkar dua hari lalu, pake diberantakin lagi semua isinya…”, jelas si santri sembari nyeletuk, “masih mending saya ustadz, cuma ngerusak kunci aja, gak pake di acak-acak isinya”.

“Tapi buat apa kamu rusakin lagi lemari temanmu?” tanya si ustadz lagi keheranan.

“Dendamlah ustadz…, masa lemari saya aja yang boleh dibongkar, mereka juga bolehlah…” jawabnya polos seakan-akan membenarkan tingkahnya.

“Jadi setelah kamu bongkar, lantas lemarinya rusak, kamu pelototin tu lemari, dan… PUAS-lah ya??”, sindir si ustadz.

Santri itu diam tak berani menjawab, mungkin tahu sedang disindir.

………….

Ya, cerita dendam santri kala itu sebenarnya cerita biasa saja. Biasa dan sering terjadi bahkan oleh kita juga. Berapa banyak orang yang berbuat salah ke kita, dan kita pun membalasnya dengan perbuatan yang sama, bahkan lebih. Kita merasa ‘sangat puas’ apabila sudah melampiaskan dendam itu. Tak jarang kita memupuk subur dendam dengan menggandakannya berlipat-lipat. Hingga ke orang yang tak terlibat pun dapat terkena imbasnya.

Masih mending kalau pembalasan dendam itu tepat sasaran, tentu tidak mengorbankan banyak jiwa. Yang terjadi malah sebaliknya. Ketika dendam tak mampu terbalaskan, sementara kerak dendamnya sudah masuk ke usus hati, maka dicarilah sasaran lain yang agak mirip, tentunya agar merasa ‘PUAS’ dan dendam-pun terhasratkan.

Agaknya dendam laksana bisnis MLM, terus menerus dan sambung menyambung. Dendam dapat juga laksana benda pusaka, yang layak diwariskan ke anak cucu dan generasi setelahnya.

Lihatlah Paus Urbanus II (tahun 1095), yang tak terima Palestina di kuasai kaum muslimin. Maka demi melampiaskan dendamnya kepada kaum muslimin Palestina, ia membakar emosi massa dengan cara berdusta. Ia menebar fitnah dengan mengatakan bahwa umat Kristen di palestina telah dibunuh, dibantai dan dibakar dalam gereja-gereja oleh pasukan Turki Seljuk yang Muslim. Ia juga berdusta bahwa kaum muslimin telah dan sedang menguasai makam Yesus Kristus. Ia pun memobilisasi kaum kristiani di seluruh Eropa atasnama perang suci. Hasil dari dendam Paus Urbanus II cukup spektakuler. Ribuan kaum Kristiani berangkat menuju Palestina dengan kemarahan. Selama dua hari penyerbuan mereka, terjadi pembantaian yang tak bisa diterima akal sehat dan oleh kemanusiaan. Sebanyak 40.000 penduduk Palestina terbantai. Saat itu darah menggenangi tanah Yerussalem. Orang-orang Yahudi yang turut berperang dengan motivasi mendapatkan emas dan permata banyak pula membelah perut korban untuk mencari barangkali ada barang berharga yang disembunyikan dengan cara ditelan.

Pelampiasan dendam memang sering kali memakan korban, bahkan oleh mereka yang tak terlibat sama sekali. Dendam pribadi, atau dendam yang diwarisi, kedua-duanya sangat berbahaya yang pasti memakan banyak korban. Mungkin tidak sekarang, tapi bisa saja nanti.

Lihat pula Yazid bin Mu’waiyah, demi dendam yang diwariskan dari ayahnya Mu’awiyah bin Abi Syofyan, pendiri Dinasti Umayyah itu, ia dan suruhannya tegah menghabisi nyawa ratusan muslimin yang turut serta dalam rombongan Husein bin Ali di tengah padang Karbala. Tak ada yang tersisa dari pembantaian itu kecuali hanya 5 orang saja, itupun anak-anak dan perempuan tua. Bahkan Husein, cucu Rasulullah sendiri ditikam dengan tombak dan dibunuh. Tak hanya itu, kepala cucu kesayangan Rasul SAW itu dipisahkan dari badannya oleh Ubaidillah ibnu Ziyad. Mereka berpesta pora dengan peristiwa itu. PUAS karena satu dendam sudah terpenuhi!

Tragedi kemanusiaan yang terjadi di negeri ini kemungkinan besar bermula dari dendam yang terpupuk subur itu. Dendam yang disiram oleh api kebencian yang tak puas bila belum tersalurkan. Namun kita tak tahu, atas dasar apa dendam kesumat itu lahir, siapa yang mewariskannya, dan kepada siapa pula dendam itu ditujukan? Yang kita tahu hanyalah bahwa akibat dendam itu telah menimbulkan korban kemanusiaan yang tidak sedikit. Menyisahkan kesedihan dan kecemasan. Bahkan meninggalkan fitnah dan dendam baru bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Semoga kita tidak terbiasa dengan dendam-dendaman. Masih banyak cara santun agar kita tetap merasa PUAS dan terpuaskan… Wallahu a’lam. ()

Ilustrasi foto dari Google.

One thought on “Dendam Santri

  1. Akan sangat beruntung, manusia yang tak memiliki dendam di hatinya ^^

    Hanya orang-orang yang tak yakin akan indahnya Surga Allah..
    Hanya orang-orang yang tak yakin akan keganasan Neraka Allah..
    Yang masih setia memupuk subur dendam di hatinya.

    Na’uzubillah..

    keep writing ust ^__^

Comments are closed.