Korupsi Dalam Sejarah Sastra

CERITA KORUPSI dalam sejarah sastra sebenarnya cukup panjang, bahkan lebih panjang dari cerita yang ada di negeri ini. Nizam Al-Mulk, seorang sastrawan Islam abad ke-11 banyak menulis cerita-cerita pendek yang berisi nasihat-nasihat bagi setiap pejabat dan penguasa. Meski yang disindir banyak tak menghiraukan, toh beliau tak pernah berhenti dalam berkarya.

Salah satunya adalah kisah Raja Bahram Gur, yang mendapati Perdana Menterinya memiliki kasus korupsi.

Nizam Al-Mulk memulai kisah sastranya dengan menyebutkan kekesalan Raja Bahram Gur terhadap ulah para pejabat yang ia tunjuk, lebih-lebih ulah Perdana Menterinya yang gemar menguras harta rakyat dan kas negara untuk kepentingan pribadi. Sang Raja bingung, hukuman apa yang pantas dijatuhi buat sang PM, karena hukuman yang selama ini beliau tegakkan, ternyata tak menimbulkan efek jera sama sekali, malahan kasus serupa nampaknya terus saja berlaku meski diperankan oleh orang yang berbeda.Sekali waktu, Raja Bahram Gur pergi menyamar dan mengembara seorang diri. Dilihatnya kemah seorang gembala ternak domba yang sedang tidur dan seekor anjing yang mati digantung. Kemudian diketahuinya bahwa anjing itu korup, yang pada mulanya mendapat kepercayaan melindungi ternak domba itu, ternyata setiap waktu domba itu dikurbankan kepada seekor “serigala betina” yang bersedia menyerahkan diri berkelamin dengan anjing itu setiap waktu.

Raja Bahram kembali ke kerajaannya seolah ia sudah mendapatkan ilham dari gembala itu.

Aku telah memperkuat kedudukan Perdana Menteri-ku selama ini. Selama menjabat dia begitu megah dan garang, tak ada seorang-pun yang berani mengungkap ulah dia yang sebenarnya,” pikir Raja Bahram Gur. “Aku punya rencana sekarang. Besok Perdana Menteriku harus siap mempertanggung-jawabkan kesalahannya, sama seperti anjing gembala tempo hari yang mempertanggungjawabkan kecurangannya!”.

Keesokan harinya, sang raja mengumpulkan semua bangsawan, rakyat, dan orang-orang yang pernah dipenjara oleh Perdana Menteri di depan istananya. Ia juga menghadirkan Perdana Menterinya dengan mata yang tertutup. Kemudian dia membacakan pengumuman kepada khalayak ramai:

“Hari ini Perdana Menteri sudah kupecat. Dan tak ada jabatan apapun yang pantas untuknya setelah ini. Kalau ada orang yang dirugikan olehnya selama dia menjabat, silahkan ajukan pengaduan sekarang di tempat ini. Bersuaralah, dan jika perlu berteriak. Dan jangan takut dia berbalas dendam pada kalian, karena hari ini matanya-pun sudah kututup. Semua rakyat yang berbicara atas dasar kebenaran akan dijamin keselamatannya. Namun, jika kalian menganggap bahwa selama ini Perdana Menteri memang menjalankan tugasnya dengan baik dan tak ada yang dirugikan, kami akan mengembalikannya ke tempat semula.”

Mulailah rakyat bersuara, membeberkan satu per satu kesalahan yang diperbuat sang PM selama berkuasa. Mereka berkata apa adanya, dan tidak ada yang dikurangi atau dilebih-lebihkan. Raja Bahram yang sebelumnya juga telah mengantongi sejumlah bukti kelakuan sang pejabat semakin yakin bahwa Pedana Menteri memang bersalah dan pantas mendapat hukuman setimpal.

Akhirnya seluruh kekayaan PM dirampas untuk negara, tak bersisa walau hanya sejengkal tanah sekalipun… Dia berikut staf yang membantunya dihukum gantung seperti anjing yang dilihatnya pada gembala. Dan sejak itu, bebaslah rakyat dari tindakan tirani dan kesewenang-wenangan para penguasa.

Apabila ada orang yang ditunjuk menduduki pos penting, raja harus menempatkan orang lain secara diam-diam mengawasi tingkah lakunya serta melaporkannya kepada raja“, kata Nizam Al-Mulk menutup ceritanya.

Wallahu a’lam