Isa Al-Masih tentang Al-Ahmaq

AL-AHMAQ atau Ahmaq saja artinya orang dungu. Tapi tidak dungu biasa, melainkan kedunguan ganda, yang menurut Nabi Isa Al-Masih tidak akan dapat diobati. Surat Kabar Kahyan al-Arabi (Teheran), 23 Desember 1989, dalam rubrik “Budaya” (“Tsaqafah)” di halaman 15 memuat tulisan menarik tentang sabda Nabi Isa al-Masih mengenai orang dungu spesial itu. Disebutkan oleh Kahyan al-Arabi demikian:

Dari Ali ibn Musa al-Ridla, bersabda al-Masih عليه السلام: “Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan izin Allah; juga aku sembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah; juga aku obati orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan izin Allah; kemudian aku obati orang dungu namun aku tidak mampu menyembuhkanmnya!”. Maka beliau pun ditanya, “Wahai ruh Allah, siapa orang dungu itu?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang kagum kepada pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri, yang memandang semua keunggulan ada padanya dan tidak melihat beban (cacat) baginya; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya.”

Di kalangan kaum sufi ada istilah Jahil Murokkab” (bodoh kuadrat), yakni orang yang bodoh yang tidak menyadari kebodohannya sendiri. Berkaitan dengan masalah pengetahuan dan kebodohan itu, menurut kaum sufi manusia terbagi menjadi empat jenis:

Pertama, “laa yadri wa yadri annahu laa yadri“; yaitu orang yang tidak tahu, dan tahu bahwa ia tidak tahu. Inilah orang bodoh sederhana (jahil basith) yang mudah diobati, yaitu dengan pengajaran dan pendidikan.

Kedua, “yadri wa laa yadri annahu yadri“; yakni orang yang tahu, namun dia tidak tahu bahwa dia tahu. Kaum sufi mengibaratkan orang semacam ini adalah orang yang tertidur. Maka ia harus dibangunkan dan disadarkan akan kelebihannya yang bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Ketiga, “yadri wa yadri annahu yadri“; yaitu orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu. Orang ini tergolong kaum bijaksana (al-Hukama’), yang harus diikuti dan dimintai pendapat dan wawasannya.

Keempat, “laa yadri wa laa yadri annahu laa yadri“; yaitu orang yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Orang macam inilah yang disebut “bodoh kuadrat”, karena selain bodoh juga tidak tahu akan kebodohannya sendiri. Kita bisa bayangkan betapa sulitnya mengobati kebodohan orang seperti itu. Pangkal penyakitnya ialah tidak tahu diri.

Maka al-Ahmaq yang dimaksud dalam sabda Nabi Isa al-Masih yang dituturkan oleh Ali Ridla (salah seorang Imam kaum Syi’ah) di atas ialah orang jenis keempat itu, ditambah dengan sikap mengagumi diri sendiri (‘ujub) dan merasa diri sendiri selalu benar, tidak pernah salah.

Seharusnya seorang yang beriman kepada Allah dengan tulus dan benar tidak menderita penyakit serupa itu. Ia senantiasa menyadari bahwa betapa pun hebatnya dia, namun ada yang Maha Hebat, yang mengatasi segala-galanya. “Kami (Allah) mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki dan di atas setiap orang yang tahu ada Dia yang Maha Tahu” (QS. Yusuf/12:76). Dan “tahu diri” secara tepat, baik segi kekurangan maupun kelebihan, adalah pangkal kearifan. Iman yang benar seharusnya menghasilkan sikap “tahu diri” yang benar itu.

Wallahu a’laam.

  • (Artikel dinukil dari Pintu-Pintu Menuju Tuhan by Nurcholish Madjid, h. 66-67)
  • Foto Ilustrasi dari http://sambasalim.com

Makalah