TALIUM, Racun Pembunuh Yaseer Arafat

image Mantan pemimpin Palestina Yasser Arafat telah lama meninggal karena penyakit misterius. Namun menurut mantan penasihat senior Arafat, Bassam Abu Sharif, Arafat meninggal karena diracun dengan Thallium, zat kimia langka yang efeknya sangat sulit untuk terdeteksi. Teknik meracun seperti itu adalah salah satu unggulan Israel dalam membunuh targetnya.

Istilah talium sendiri berasal dari bahasa Yunani ‘thallos’ yang berarti ranting hijau. Zat ini ditemukan secara spektroskopis oleh Crookes pada 1861. Talium bisa ditemukan pada crooksite, lorandite, dan hutchinsonite serta pyrites. Zat ini didapat dengan cara memanggang biji-bijian itu. Talium juga bisa diambil dengan cara melebur bijih timbal dan seng. Adapun proses pengambilan talium terbilang rumit dan bergantung pada sumbernya. Logam talium sangat lunak dan mudah untuk dibentuk sehingga bisa dipotong dengan pisau.

Karena tergolong sangat beracun, zat ini pun mesti ditangani dengan hati-hati. Maka itu, sangat berbahaya bila terjadi kontak dengan kulit. Bahkan saat mencairkan logam ini, diperlukan ventilasi udara yang cukup.

Sebelum penggunaannya dilarang oleh Amerika Serikat pada 1975, talium digunakan sebagai bahan pembasmi tikus dan semut karena sifatnya yang tak berbau dan tidak memiliki rasa. Melihat sifatnya yang tidak menimbulkan aroma dan perbedaan rasa tersebutlah, banyak ahli yang memprediksi Arafat meninggal setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang telah dibubuhi zat tersebut.

Dikatakan Abu Sharif, seperti yang dilansir berita Alarabiya pada Selasa 11 Januari 2011 bahwa kepastian Yaseer Arafat mati diracun didapat dari hasil riset yang dilakukan ahli racun forensik paling terkemuka di Inggris. Namun Abu Sharif tidak menyebutkan identitas ahli racun tersebut ataupun nama institusi yang melakukan riset tersebut.

Dia menambahkan, berdasarkan sifatnya, Thallium merupakan bahan yang sangat sulit dideteksi. Salah satu karakteristik racun ini adalah ketika dicampurkan dengan makanan dan minuman, maka tidak akan merubah rasa, warna maupun baunya. Racun ini juga dapat langsung disuntikkan ke pembuluh darah.

“Namun laporan menunjukkan bahwa cara paling efektif agar racun ini menyebar keseluruh tubuh adalah melalui lidah, jadi racun kemungkinan ditambahkan ke air, teh dan kopi, atau buah-buahan dan sayuran, bisa juga pada obat,” ujar Sharif.

Yasser Arafat meninggal setelah menderita penyakit misterius pada 11 November 2004. Awalnya, diduga dia menderita flu, kemudian berangsur-angsur kondisinya semakin memburuk.

Dia kemudian dilarikan ke rumah sakit militer Percy di Prancis di bawah pengawasan tim dokter dari Tunisia, Yordania dan Mesir. Dia akhirnya meninggal, dan dokter hanya bisa menjelaskan bahwa dia menderita kelainan darah yang misterius.

Kematian Arafat tersebut persis seperti yang digambarkan Sharif mengenai cara kerja thallium pada tubuh, yaitu menyerang sistem produksi darah. Racun dapat membuat aliran darah terhenti dan tubuh tidak mampu lagi memproduksi darah.

Jika ini terjadi, maka yang pertama terkena kerusakannya adalah hati, kemudian ginjal, paru-paru, lalu terakhir menghancurkan otak dan menyebabkan kematian.

Sharif mengatakan bahwa teknik meracuni orang seperti ini adalah salah satu senjata unggulan Israel dalam membunuh targetnya. Dia mengatakan, bahwa target berikutnya mungkin adalah Presiden Palestina saat ini, Mahmoud Abbas.

“Saya telah memberitahu Abbas untuk waspada karena mungkin terdapat rencana serupa dari Israel untuk menyingkirkannya dan Perdana Menteri Salam Fayyad. Israel ingin agar posisi kepemimpinan di Palestina kosong,” ujar Sharif.

Sumber berita:  VIVAnews –  detikNewsMedia Indonesia –  Al-Arabiya News Chanel

Sumber foto: DetikNews dan Media Indonesia