Nasib Pemimpin Yang Diusir Rakyat Sendiri….

Mungkin lantaran menjadi pemimpin (bangsa) itu enak menyebabkan mayoritas orang sangat mengharap bisa menjadi pemimpin. Memang dalam situasi “mujur”, banyak pemimpin yang dieluk dan dipuji oleh rakyatnya. Kedatangannya disambut dengan muka berseri-seri. Semua rakyat pada antri untuk sekadar melihat “wajah” sang pemimpin mereka. TAPI, Tapi kalau nasib lagi “apes”, maka sang Pemimpin harus siap-siap menerima segala konsekuensi, termasuk diusir oleh rakyat sendiri. Nasib “mujur” dan “apes” pemimpin tersebut sebenarnya diciptakan oleh sang pemimpin itu sendiri. Nasib akan mujur bila kepemimpinan dilaksanakan secara adil dan bijaksana serta mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Namun sebaliknya, nasib pemimpin akan apes bila hak-hak rakyat yang memilihnya diabaikan.

Banyak sudah contoh pemimpin suatu bangsa yang berakhir apes dan tragis karena kekeliruan mereka dalam memimpin. Contoh yang baru-baru ini terjadi adalah terhadap pemimpin Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, yang dijatuhkan oleh rakyatnya dalam suatu demonstrasi besar-besar sehingga memaksa pemimpin otoriter tersebut meninggalkan negerinya secara tak hormat. Presiden Mesir, Hosne Mubarraq sepertinya akan bernasib sama setelah rakyat hingga hari ini (1/2/2011) menginginkannya lengser dari kekuasaan.

Mohammad-reza-shah.jpgDulu, nasib serupa juga dialami oleh Pemimpin Iran,  Mohammad Reza Pahlavi, Sah Iran. Adalah Mohammad Reza Pahlevi lahir di Teheran, Iran pada 26 Oktober 1919 adalah Kaisar Iran yang berkuasa mulai 16 September 1941 menggantikan Ayahnya Rezā Shāh Pahlavi (lahir 16 Maret 1878 – meninggal 26 Juli 1944). Beliau  menyebut dirinya sebagai “Yang Mulia Baginda” serta memegang gelar kerajaan Shahanshah (Raja segala raja).  Beliau merupakan Kaisar Kedua Iran dari Dinasti Pahlevi dan sekaligus sebagai “Shah” terakhir dari monarki di Iran .

Pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi telah terjadi serangkaian kebijakan pembaruan ekonomi dan sosial dimaksudkan untuk mentransformasikan Iran menjadi suatu kekuatan global. Namun belakangan pemerintahan yang dijalankan secara Monarki itu dinilai gagal karena tidak berpihak kepada kepentingan rakyat Iran. Berbagai kebijakan kontroversial yang selama ini dijalankannya, seperti: kebijakan Westernisasinya yang kuat, dan pengakuannya terhadap Israel; sangat  berbenturan dengan identitas muslim Syiah Iran. Selain itu beliau juga menjalankan pemerintahan secara brutal, korup, dan boros. Kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah yang terlalu ambisius menyebabkan inflasi tinggi, kelangkaan, dan perekonomian yang tidak efisien.

Muhammad Reza Pahlavi, (sama seperti ayahnya Shah Reza Pahlavi), merupakan orang yang sekuler. Hal ini sangat jauh berbeda dengan cara pandang rakyat Iran pada umumnya yang sangat menghormati agama (Islam Syiah) dalam kehidupan mereka sehari-hari. Berbagai penilaian tersebut akhirnya membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Iran, baik dari pihak relijius maupun sekuler.

Akhirnya pada tahun 1979, gejolak politik di Iran telah berubah menjadi gerakan yang dikenal dengan nama Revolusi Iran. Gerakan tersebut memaksa Muhammad Reza Pahlavi meninggalkan Iran pada tanggal 16 Januari 1979 setelah berkuasa selama 37 tahun. Tak lama setelah itu, kekuatan-kekuatan revolusioner mengubah pemerintah Iran yang sebelumnya Monarki menjadi suatu negara Republik Islam Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Agung Ruhollah Khomeini, seorang pemimpin revolusi dan pendiri dari Republik Islam.

Nasib tragis dialami oleh Mohammad Reza Pahlevi lantaran telah diusir rakyatnya sehingga ia bersama keluarganya harus menjalani sisa hidupnya di pengasingan dengan berpindah dari satu negara ke negara lain. Akhirnya,  beliau meninggal pada tanggal 27 Juli 1980 di Mesir karena penyakit kanker yang telah lama dideritanya. Mohammad Reza Pahlevi sendiri meninggalkan 5 orang putra-putri, yaitu: Shahnaz, Reza Cyrus, Farahnaz, Leila Pahlevi, dan Ali Reza.

Di pengasingan, keluarga Mohammad Reza Pahlevi ini hidup dengan menyedihkan. Putrinya, Leila Pahlavi  beberapa tahun lalu ditemukan tewas di sebuah kamar hotel dalam usia 31 tahun, karena overdosis. Sedangkan putra bungsunya, ALI REZA (44 tahun), pada Selasa 4 Januari 2011 lalu  ditemukan tewas akibat luka tembakan dan dinyatakan sebagai tindakan bunuh diri di rumahnya Wilayah South End, Boston. Aksi bunuh diri keduanya diduga akibat deprsi yang terus meningkat sejak mereka meninggalkan Iran dan tinggal di pengasingan.

Semoga nasib-nasib pemimpin negeri di belahan bumi yang satu dapat dijadikan contoh dan instropeksi bagi pemimpin negeri di belahan bumi lain betapa menjadi pemimpin bangsa wajib mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara merata!!