Lima Kemiripan “Nasib” Presiden Tunisia dan Syah Iran !

Mantan Penguasa Iran, Mohammad Reza Pahlevi, dan mantan Penguasa Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, sama-sama jatuh dari kekuasaannya setelah dipaksa oleh rakyatnya sendiri. Mereka terpaksa kabur dari negaranya dengan tidak hormat. Ternyata beberapa negara yang ‘semula’ menjadi tujuan para mantan penguasa ini mendapat sambutan yang tidak bersahabat. Oleh beberapa negara, mereka ditolak untuk diberikan suaka politiknya. Akhirnya  Mohammad Reza Pahlevi hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain dan meninggal di Kairo Mesir. Sedangkan Ben Ali, terpaksa meminta suaka politik kepada Arab Saudi.

Dan bila dicermati secara mendalam dan lebih teliti, ternyata kedua pemimpin diktator ini bukan hanya memiliki kesamaan nasib saja, bahkan sikap dan gaya kepemimpinan mereka pun dinilai sama, sehingga tak heran jika Ben Ali dapat disebut sebagai Pahlavi baru!

Berikut 5 (lima) kemiripan “nasib” mantan Presiden Tunisia dan Syah Iran yang dikutip dari http://indonesian.irib.ir:

1. Sebarkan Sekularisme

Pada tahun 1999, panglima militer Italia mengungkapkan bahwa Italia yang membawa Zine El Abidine Ben Ali ke puncak kekuasaan. Sejatinya, di akhir-akhir masa pemerintahan Habib Bourguiba, Presiden Tunisia kebijakannya justeru membuat aktivitas gerakan-gerakan keislaman semakin aktif, khususnya pengikut Syiah dan ada kekhawatiran gerakan keislaman ini bakal menyebar ke kawasan Timur Tengah. Melihat kenyataan ini, Italia khawatir penyebaran kesadaran Islam ini ke negara-negara tetangga dan untuk mencegah hal ini Italia membantu Ben Ali untuk menguasai negeri ini dan menjadikan masyarakatnya sebagai masyarakat sekuler.

Sekalipun pada lahiriahnya Ben Ali tidak punya masalah dengan Islam, namun pada praktisnya ia hanya mendukung Islam dalam kerangka keyakinan individu dan sekuler. Langkah anti agama Ben Ali yang diterapkan dengan tangan besi menyebabkan sebagian umat Islam memandang Islam dengan cara pandang sekuler, tapi tentu saja sebagai sebuah paksaan. Sebagai contoh mereka tidak lagi melihat jilbab sebagai bagian dari kewajiban agama.

Kinerja yang sama ini juga diterapkan oleh Mohammad Reza Pahlavi mengikuti kebijakan ayahnya. Sekalipun ia menyatakan dirinya pengikut Syiah, namun ia masih berusaha untuk tidak berhadap-hadapan langsung dengan agama. Sementara pada batinnya, metode sekuler yang diterapkan ayahnya yang dilakukan selama ini.

Penyebaran budaya Barat sebagai teladan bagi kalangan muda, memperbanyak pusat-pusat budaya seperti gedung sinema untuk mengeluarkan masyarakat muslim dari tradisinya dan mencegah masuknya mahasiswi berjilbab merupakan langkah-langkah Syah untuk menerapkan proyek sekularisasi.

2. Dukungan Barat

Sekalipun banyak dari organisasi-organisasi hak asasi manusia seperti Organisasi Amnesti Internasional menyebut pemerintahan Ben Ali sebagai pemerintahan diktator, tapi anehnya hubungan Barat dengan pemerintahannya selalu damai dan tidak ada ketegangan. Ben Ali dan pemerintahannya sama seperti negara-negara Arab lainnya yang bergantung pada Barat hampir tidak pernah mendapat protes atau kritikan Barat.

Ben Ali dalam politik luar negerinya senantiasa berusaha mencitrakan dirinya sebagai pecinta damai dan seperti kepala-kepala negara Arab lainnya Ben Ali juga berusaha untuk lebih dekat dengan Amerika. Diktator Tunisia ini sejak dekade 90-an mengaku pemerintahannya berusaha memberantas terorisme. Ia bahkan menyebut negaranya sebagai sekutu terdekat Amerika dalam proyek perang melawan terorisme.

Terkait dukungan Barat, khususnya Amerika atas Mohammad Reza Pahlavi tidak ada yang meragukannya. Kudeta Amerika di Iran dan upaya mengembalikan Syah ke Iran merupakan awal dari pengaruh total Amerika dalam hubungan ekonomi, politik, budaya dan militer Iran. Dukungan Amerika atas Syah sedemikian kuatnya sehingga menyebutnya sebagai polisi Amerika di Timur Tengah.

3. Bawa Lari Kekayaan Negara

Di antara berita-berita yang dipublikasikan hari-hari ini terkait Tunisia adalah kaburnya mantan Presiden Zine El Abidine Ben Ali ke Arab Saudi. Surat kabar Perancis, Le Monde yang mengingatkan orang akan kaburnya Syah Pahlevi dari Iran dan menulis, keluarga Zine El Abidine Ben Ali kabur dari Tunisia dengan membawa 1,5 ton emas!

Koran Perancis itu menyebutkan, “Berdasarkan informasi tersebut, Leila Trabelsi, istri presiden diduga pergi ke Bank of Tunisia untuk mengambil emas batangan tersebut. Direktur bank itu menolak permintaan istri presiden. Kemudian istri Ben Ali menghubungi suaminya yang awalnya juga menolak namun kemudian menyetujui permintaan istrinya.”

Para sejarawan Iran dengan bersandarkan pada dokumen-dokumen terpercaya yang ditemukan di kerajaan dan dinas rahasia Savak mengkonfirmasikan keluarga Syah ketika kabur dari Iran juga membawa kekayaan luar biasa ke luar Iran.

4. Pemerintahan Seumur Hidup

Satu lagi kesamaan yang patut dicermati antara Presiden Ben Ali dan Syah Pahlevi dalam cara mereka memerintah. Sekalipun Ben Ali menyebut dirinya sebagai Presiden Tunisia, namun berkuasa selama 23 tahun di negara ini dengan tidak mengindahkan hak-hak warga secara substansi tidak berbeda dengan sistem kerajaan. Ben Ali sebelum kabur dari negaranya sempat berpidato lewat televisi dan menyatakan pembubaran pemerintah dan mengumumkan bahwa dirinya tidak berminat menjadi presiden seumur hidup. Sama dengan Syah Pahlevi yang berkuasa selama 40 tahun hingga kemenangan Revolusi Islam Iran.

5. Diusir dari Negara dan Ditolak Sang Tuan

Kesamaan nasib yang menyedihkan dan patut menjadi pelajaran dari kedua penguasa ini adalah di saat mereka terusir.

Syah Iran yang sebelumnya menjadi teman akrab Amerika, pada 32 tahun lalu saat terusir dari Iran, Amerika ternyata tidak menerima pesawat yang membawanya dari Iran untuk mendarat di bandara Amerika. Setelah beberapa hari kebingungan di sebuah negara kecil Panama, Syah Iran akhirnya menuju Anwar Sadat satu lagi diktator Mesir untuk meminta suaka.

Nasib yang sama dialami juga oleh Presiden Ben Ali, diktator Tunisia. Ia setelah lari dari negaranya ternyata tidak disambut hangat oleh teman-teman lama Baratnya di Eropa yang membuatnya tidak melihat jalan lain, kecuali mencari suaka kepada keluarga Al Saud, Arab Saudi. (sumber: Iran-Indonesia Radio)