Isu-Isu Terkait dan Berpengaruh Bagi Perumusan Kebijakan Pendidikan Islam di Masa Depan

Masa depan pendidikan Islam dipengaruhi oleh tiga isu besar yaitu globalisasi, demokratisasi dan liberalisasi. Globalisasi adalah suatu keadaan dimana sudah tidak ada lagi batas-batas (borderless) teritorial antara satu bangsa dengan bangsa yang lain, antara tanah air yang satu dengan tanah air yang lain, antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain. Hal ini terjadi dikarenakan adanya perkembangan secara pesat teknologi komunikasi dan informasi.

Era globalisasi ini juga mempengaruhi pendidikan. Hal ini terlihat pembelajaran yang digunakan dengan teknologi canggih bukan secara konvensional seperti pembelajaran berbasis jaringan (Web) dan Distance Learning.

Pembelajaran berbasis web yang populer dengan sebutan web-based training (WBT) atau kadang disebut web-based education (WBE) dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknoloogi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa semua pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya maka kegiatan itu dapat disebut sebagai pembelajaran berbasis web.

Teknologi internet memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk mendapatkan informasi apa saja dari mana saja dan kapan saja dengan mudah dan cepat. Informasi yang tersedia diberbagai pusat data diberbagai komputer di dunia. Selama komputer-komputer tersebut saling terhubung dalam jaringan internet, dapat kita akses dari mana saja. Ini merupakan salah satu keuntungan belajar melalui internet.

Berkaitan dengan hal di atas pendidikan Islam belum ada pembelajaran berbasis jaringan (web) atau pembelajaran yang menggunakan internet maka pemerintah terutama Kementrian Agama selaku pembuat kebijakan pendidikan Islam perlu mengadakan pembelajaran berbasis jaringan (Web) agar umat Islam tidak ketinggalan dalam memfungsikan teknologi.

Sedangkan Distance Learning adalah sistem pembelajaran yang dirancang khusus menggunakan alat komunikasi elektronik. Belajar jarak jauh lebih murah dan kondisi geografis tidak menjadi halangan. Peserta pembelajaran yang memiliki masalah dalam penjadwalan dan jarak bisa mendapatkan keuntungan sebab pendidikan jarak jauh lebih fleksibel dalam waktu dan dapat disampaikan hampir di mana saja.

Berkaitan dengan hal di atas, pendidikan Islam pada masa itu belum mengenal teknologi. Tetapi walaupun demikian pendidikan ketika itu terus berjalan, hal ini dibuktikan dengan pendidikan Islam membuat beberapa perumusan kebijakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yaitu:

  1. Mengembangkan rihlah ilmiah, yaitu belajar dari satu daerah kedaerah lain seperti yang dilakukan oleh ilmuwan dan ulama-ulama terdahulu;
  2. Membangun jaringan pos. Segala informasi dikirimkan melalui pos yang disampaikan melalui kurir, jadi walaupun jarak antara satu daerah dengan daerah yang lain berjauhan informasi itu tetap dapat diperoleh;
  3. Mengembangkan industri buku. Pada abad pertengahan melakukan perterjemahan terhadap buku-buku asing seperti buku Yunani dan Romawi ke dalam bahasa Arab. Maka ketika itu buku-buku yang telah diterjemahkan dan disalin kemudian dikirimkan keberbagai daerah.

Berdasarkan pemaparan di atas  dapat di pahami bahwa pendidikan Islam telah melakukan pendidikan jarak jauh akan tetapi belum menggunakan teknologi seperti komputer.

Menanggapi hal di atas, sekarang dunia pendidikan telah mengembangkan pendidikan jarak jauh dengan membuka universitas terbuka, pembelajaran dengan sistem modul dan pembelajaran e-learning.

Akan tetapi, pendidikan Islam belum mengembangkan pendidikan jarak jauh, maka untuk menanggapi hal tersebut pemerintah terutama Kementrian Agama selaku pembuaat kebijakan, bahwa perlu dibuat kebijakan, yaitu membuat universitas Islam terbuka, madrasah terbuka dan membuat rekruitmen mahasiswa lintas daerah. (baca selengkapnya….)