Desain Instruksional Pelatihan Guru Mengaji Dalam Pengajaran Alquran

Kegiatan pemberian suatu pelatihan, baik kepada anak-anak maupun untuk orang dewasa merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran yang memerlukan penangan yang serius sama seperti sewaktu memberikan materi pelajaran dalam suatu kegiatan pembelajaran formal. Seorang tutor pelatihan atau disebut juga dengan pengajar pelatihan, bertugas menyajikan ilmu yang dia miliki kepada peserta pelatihannya. Agar dapat menularkan ilmu tersebut ia memerlukan pengalaman, pengetahuan tentang siapa peserta pelatihan, serta bagaimana menyampaikan ilmu tersebut dengan baik. Ia perlu mendalami kompetensi ‘kedua’ yang member bekal kepadanya untuk memoles terutama cara menyajikan topik menjadi lebih menarik, teratur, dan terpadu dengan kompetensi yang terkandung dalam materi. Hal ini merupakan bagian integral dari teaching performance (kinerja mangajar) seorang pengajar untuk segala jenjang pendidikan, termasuk dalam kegiatan pelatihan.

Kinerja mengajar tidak hanya ditinjau dari bagaimana pengajar tersebut menjelaskan isi pelajaran. Ia harus tahu bagaimana menghadapi peserta didik/pelatihan, membantu memecahkan masalah, mengelola kelas, menata bahan ajar, menentukan kegiatan kelas, menyusun asesmen belajar, menentukan metode atau media; atau bahkan menjawab pertanyaan dengan bijaksana. Satu hal yang jelas jika seorang pengajar hendak mengajar, maka ia diminta untuk menyiapkan satuan pelajaran atau lesson plan. Penyusunan satuan pelajaran ini terkait dengan rencana yang harus dilaksanakan sewaktu berada di ruangan kelas. Agar satuan pelajaran tersusun dengan baik, pengajar memerlukan landasan berpikir atau bekal ilmu yang mendukung penyusunan satuan pelajaran tersebut. Bahkan ia harus siap berkomunikasi di kelas dengan baik, memikirkan kegiatan apa yang harus dilakukan peserta pelatihan agar mereka dapat mencerna isi pelajaran dengan sebaik-baiknya serta dalam situasi yang menyenangkan.

Adapun desain instruksional mengenai pelatihan guru mengaji dalam pengajaran Al-Qur’an secara cepat dan menyenangkan yang penulis susun ini bertujuan untuk memudahkan para guru agama, khususnya guru mengaji dalam mengajarkan cara membaca Al-Qur’an dengan cepat dan tepat guna membantu meningkatkan minat membaca Al-Qur’an di lingkungan keluarga dan masyarakat.

LANDASAN ILMIAH

  • Pengertian Desain Pembelajaran

Berikut ini penulis akan mengemukakan beberapa pengertian desain instruksional  yang dikemukakan oleh beberapa pakar:

(a) Reigeluth, 1983

Bagi Reigeluth, disain pembelajaran adalah kisi-kisi dari penerapan teori belajar dan pembelajaran untuk memfasilitasi proses belajar seseorang. Reigeluth membedakan disain pembelajaran dengan pengembangan. Ia menyatakan bahwa pengembangan adalah penerapan kisi-kisi disain di lapangan. Kemudian setelah uji coba selesai, mak disain tersebut diperbaiki atau diperbaharui sesuai dengan masukan yang telah diperoleh. Reigeluth mengkaji disain dan pengembangan pembelajaran berdasarkan tinjauan atas teori belajar dan pembelajaran/

(b) Rothwell & Kazanas, 1992

Rothewll & Kazanas merumuskan disain pembelajaran terkait dengan peningkatan mutu kinerja seseorang dan pengaruhnya bagi organisasi. Bagi mereka, peningkatan kinerja berarti peningkatan kinerja organisasi. Disain pembelajaran melakukan hal tersebut melalui suatu model kinerja manusia. Rumusan Rothwell & Kazanas ini bermanfaat jika disain pembelajaran diterapkan pada suatu pusat pelatihan di organisasi tertentu.

(c) Gagne, Briggs, & Wager, 1992

Gagne, dkk. mengembangkan konsep desain pembelajaran dengan menyatakan bahwa disain pembelajaran membantu proses belajar seseorang, di mana proses belajar itu sendiri memiliki tahapan segera dan jangka panjang. Mereka percaya proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar, internal maupun eksternal. Kondisi internal adalah kemampuan dan kesiapan diri pebelajar, sedangkan kondisi eksternal adalah pengaturan lingkungan yang didisain. Penyiapan kondisi eksternal belajar inilah yang disebut oleh mereka sebagai desain pembelajaran. Untuk itu, disain pembelajaran haruslah sistematis, dan menerapkan konsep pendekatan sistem agar berhasil meningkatkan mutu kinerja seseorang. Mereka percaya bahwa proses belajar yang terjadi secara internal, dapat ditumbuhkan, diperkaya jika faktor eksternal, yaitu pembelajaran dapat didisain dengan efektif.

(d) Reiser, 2002

Bagi Reiser, disain pembelajaran berbentuk rangkaian prosedur sebagai suatu sistem untuk pengembangan program pendidikan dan pelatihan dengan konsisten, dan teruji. Disain pembelajaran juga sebagai proses yang rumit tapi kreatif, aktif, dan berulang-ulang. Definisi Reiser bermakna sistem, pelatihan yaitu pendidikan di organisasi, serta proses yang teruji dan dapat diulang penerapannya. (baca selengkapnya…)