Pembentukan Bani Abbas Pada Masa Abdullah As-Saffah

Sebelum Bani Abbas berkuasa, imperium Islam saat itu dikuasai oleh Bani Umayyah. Masa sesudah Daulah bani Umayyah merupakan fase baru dalam perkembangan sejarah dan kebudayaan Islam. Orang-orang non Arab mulai secara aktif turut mengendalikan pemerintahan, meskipun khalifah tetap dijabat oleh orang Arab. Orang Turki, orang Persia memainkan peranan penting dalam pemerintahan. Sistem pintu terbuka dalam pembinaan kebudayaan dengan menerima elemen-elemen kebudayaan non Arab, membawa angin segar bagi perkembangan kebudayaan Islam.

Kelemahan klasik dan khas dari kehidupan sosial orang-orang Arab, yang terlalu menekankan individualisme, semangat kesukuan dan pertikaian kembali menampakkan wujudnya. Ikatan persaudaraan berdasarkan iman yang telah dibangun oleh Rasulullah, untuk sementara waktu berhasil mengatasi perpecahan  yang selalu membayang-bayangi kehidupan sosial masyarakat Arab, yang terdiri atas berbagai suku dan etnis. Namun seiring perjalanan waktu pada periode Umayyah mulai longgar, yang mulai menampakkan semangat keluarga dan sukunya masing-masing.[1] Beribu-ribu nyawa dikorbankan hanya untuk memenuhi ambisinya. Meski telah memangku kekuasaan selama sekian abad pada akhirnya binasa dan runtuh.

Ben Anderson mengatakan bahwa sebuah kekuasaan yang dibangun diatas penderitaan rakyatnya pasti akan tumbang dengan sendirinya.[2]

Dengan berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah yang telah memerintah selama lebih kurang sembilan puluh tahun, maka kepemimpinan Islam beralih kepada  klan Abbasiyah yang termasuk dalam rumpun Quraisy. Peristiwa peralihan kekuasaan (suksesi) ini ditandai dengan pemberian bai`at penuh kepada Abu al-Abbas al-Saffah di mesjid Kufah pada tanggal 28 Nopember 749 M.[3] Masa Pemerintahan Bani Abbasiyah lebih lama dari Bani Umayyah yakni berlangsung lebih dari lima abad (kurang lebih 524 tahun) sejak tahun 132 H / 750 M sampai 656 H / 1258 M. Bani Abbas merupakan imperium besar yang kuat.[4] Kekuasaannya meliputi wilayah yang terbentang dari Asia hingga Eropa.

Dalam kurun waktu tersebut, Abbasiyah mampu menghasilkan peradaban yang cukup gemilang. Prestasi puncaknya diraih pada masa Pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Dikalangan sejarawan, puncak prestasi ini disebut sebagai masa keemasan Islam (the Golden Age).[5] Indikatornya adalah maraknya kegiatan ilmiah sehingga memunculkan tokoh dibidang filsafat, teologi dan hukum Islam (fiqih).